Welcome

Senin, 23 Mei 2011

Tips menghindari Stress atau Depresi

Berhubung banyak sekali pembaca yang menghubungi saya lewat imel untuk curhat masalah pribadinya yang tak mungkin disampaikan diblog, tapi tak mungkin saya membalas satu persatu lewat imel, karena sebenarnya semua solusi sudah pernah saya tulis dalam artikel saya tapi umumnya mereka agak sulit mencarinya atau agak malas baca satu persatu tulisan berkategori Spiritual blog ini, maka saya bahas lagi masalah mencegah dan menanggulani stress/depresi/psikosomatis untuk bisa dibaca ulang oleh semua pembaca yang ingin mengetahuinya….
“Stress” artinya tekanan, penyakit stress adalah penyakit yang mengganggu kejiwaan seseorang karena tidak dapat mengatasi/menyalurkan dan mencari jalan keluar yang tepat, baik dan benar agar tekanan tersebut tidak mengganggu sistem saraf dan mengakibatkan depresi mental…
Kalau tekanan batin/mental yang diderita seseorang tidak bisa diatasi dengan baik, akan terjadi kondisi depresi yang dapat mengganggu fungsi saraf, mulai saraf lokal sampai saraf pusat yang terletak didalam otak kita….
Kalau kondisi mental/jiwa dalam keadaan depresi tidak bisa diatasi dalam waktu berkepanjangan dan mulai merusak fungsi/faal tubuh, maka kondisi yang memburuk itu biasa disebut penyakit psikhosomatis, penyakit kejiwaannya sudah berpengaruh besar terhadap kondisi fisik si penderita…contohnya terjadi serangan hypertensi, gagal jantung, gagal ginjal, buta sementara, lumpuh sementara, paranoid (ketakutan yang berlebihan), berhalusinasi/shizoprane, berbuat asosial dan anarkis…sampai bisa melakukan bunuh diri….Sebenarnya penyakit ini porsinya dokter jiwa…tapi kebanyakan orang lebih suka pergi kedokter biasa atau kedukun saja, karena takut dibilang sakit “gila”…
Menurut hasil penelitian lembaga survey tertentu, katanya di Indonesia ini orang yang menderita gangguan kejiwaan stress/depresi/psikosomatis tersebut telah mencapai lebih dari 50%…(saya lupa lembaga survey yang mengadakannya..)..
Kalau dilihat dari kenyataan dimasyarakat, menurut saya justru yang menderita kelainan kejiwaan di Indonesia bisa mencapai 75 %, atau lebih, dilihat dari berlangsungnya krisis multi dimensi yang telah berlangsung hampir 10 tahun tapi belum ada tanda perbaikan yang signifikan…
Bagimana mungkin krisis berkepanjangan bisa diatasi kalau para eksekutif, yudikatif, legislatif…juga masyarakat luas mayoritas menderita kelainan kejiwaan seperti sekarang ini…produknya tentu tidak akan bisa diharap banyak…
Apalagi sekarang ini Indonesia menganut azas demokrasi yang modern, semua diputuskan lewat keunggulan mayoritas…kalau mayoritasnya menderita sakit kejiwaan, maka hasil putusan/produk nasionalnyapun ya bermasalah pula…jangan menyalahkan siapapun, inilah konsekuensi logis bagi bangsa yang kwalitas kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya mayoritas masih relatif rendah, tapi memilih sistem politik demokrasi…jangan saling menuduh antara kelompok satu dengan kelompok lain…ini adalah tanggung jawab bersama memperbaiki diri kita sendiri, keluarga, handai tolan, anak buah sendiri…baru keorang lain….
Jadi menurut hemat saya, sudah tiba saatnya setiap orang/individu mau berusaha mencegah dan menanggulangi stress/depresi/psikhosomatisnya masing masing dulu, agar memberikan kontribusi kepada kesehatan sosial masyarakat banyak…
Karena kita hidup diera demokrasi modern, masyarakat mandiri dan madani, maka setiap individu kita harus mampu mencegah dan menanggulangi stress/depresi/psikosomatisnya, agar kita bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara…
Sekarang bagaimana caranya? ….
Caranya sebenarnya sangat simpel yaitu : ” Kemauan keras untuk melakukan introspeksi diri secara menyeluruh dan mendasar, sesuai dengan norma agama, hukum, adat istiadat, susila dan kesopanan..”…Kalau ESQ LC menyebutnya sebagai: ” Melepaskan diri dari 7 belenggu kehidupan dan membebaskan diri dari berbagai berhala kehidupan yang selama ini telah membelenggu dan merusak paradigma berfikir dan kejiwaan kita…mengakibatkan kita keluar dari jati diri manusia yang manusiawi, yang diciptakan sebgai kalifah diatas bumi yang diberi modal akal fikiran dan hati nurani oleh Allah SWT…
Cara introspeksi:
1. Pergilah melayat orang yang meninggal dunia dan ikut menguburkannya…
2. Pergilah kerumah sakit, trutama ketempat gawat darurat dan yang menderita sakit parah…
3. Pergilah ke rumah penampungan orang tua jompo. panti asuha anak yatim piatu…
4. Pergilah ketempat penampungan para korban bencana alam, para gepeng (gembel dan pengemis)…
5. Pergilah ke panti tuna netra…
6. Perhatikan penderitaan para pengemis cacat fisik di jalanan..
7. Lakukan shalat tahajud tengah malam, kemudian bertafakur dikesunyian malam, berdialog dengan hati nurani sendiri…dan bertanya pada hati nurani: “Melihat semua penderitaan orang lain diberbagai tempat penampungan tersebut, apakah pantas aku masih tidak bersyukur kepada karunia Allah yang telah diberikan selama ini ???”….
8. Kalau anda masih belum bisa mensyukuri karunia Tuhan dengan metoda diatas, berarti anda sudah menderita “patologis” atau menderita “penyakit buta hati”…ini lebih parah lagi dari sekedar psikhosomatis…anda sudah kehilangan jati diri anda akibat terbelenggu oleh berbagai berhala kehidupan..dan anda sudah mendekati golongan orang yang “tidak berprinsip pada Allah”…dan mendekati.. “syirik/menduakan Tuhan”..dosa terberat yang tidak terampuni oleh Tuhan…
9. Kalau seseorang sudah ditutup pintu hatinya, ditutup mata batinnya oleh Tuhan, siapapun tidak bisa menolong lagi….dalam kondisi seperti apapun, sekaya apapun, setinggi apapun pangkat dan jabatan anda, sehebat apapun anda dipuji orang, anda akan tetap menderita batin, menderita psikosomatis dan berakhir dengan kematian yang memalukan …..Kalau sudah seperti ini, maka seorang tukang becak yang terpaksa harus tidur diatas becaknya karena tidak punya rumah, atau gembel yang terpaksa tidur dibawah kolong jembatan, akan merasa lebih berbahagia daripada anda…yang bergelimang harta berkecukupan tapi menderita psikosomatis karena menderita …”buta hati…”
Maaf, saya bukan menggurui, tapi sharing pengalaman hidup…apa yang saya ceritakan ini lebih banyak diambil dari pengalaman hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar